| |
|
|
|
|
|
|
|

| Sahabat Terbaru |
Zulkifli bin Ibrahim
mindzouls@gmail.com
|
| Pesan Terbaru |
wahyudin irpan
m.irpan69@gmail.com
|
| File Download Terbaru |
|
|
- User Online : 743
- User Terdaftar : 2616

 Klik Di sini untuk bergabung dengan millis Ikhwanmuslim
|
|
| |
Diposting oleh admin, Senin, 10 Nov 2008 14:08:18, di Kategori: Harian
Aku Menulis Karena Aku Membaca
Penulis : Abu Mufida
Aku menulis, Aku akan abadi di sepanjang jaman.................................
Membacadan menulis, dalam kaca mata Islam, sangat penting. Sampai Allahbersumpah dengan alat tulis dan tulisan. Ini dapat kita lihat dalamAl-Quran: Nun, demi pena dan apa yang mereka tulis.? (Qs. Al-Qolam [68]ayat 1).
Sangat menarik untuk kita kaji adalah, cara Allahmemuji para penulis. Allah bersumpah, wal qolami, demi pena. Dalam ilmutafsir, disebutkan bahwa manakala Allah bersumpah dengan makhluk-Nya,itu menunjukan kedudukan makhluk tersebut sangat penting dalamkehidupan. Misalnya, Allah bersumpah wasy syamsyi, demi matahari, itumemiliki makna betapa pentingnya matahari. Mungkinkah ada kehidupanmanakala tidak ada matahari?
Dan sekarang Allah bersumpah dengandua hal, pertama dengan pena semua alat tulis sebab kata al-qolamimemakai alif lam, marifah, untuk menunjukan semua jenis alat tulis; dankedua dengan alat tulis, disusul dengan sumpah terhadap hasil karyatulis dari aktivitas para penulis, melalui katawa mayasthurunn. Inimenunjukkan bahwa baik alat maupun karya tulis, termasuk sesuatu yangsangat penting dalam kehidupan manusia.
Oleh sebab itu, tidakheran, jika nabi Muhammad Saw. memuji para penulis, dengan caramenyamakan mereka kepada para syuhada (para mati syahid). Beliaubersabda, Di akhirat nanti, tinta para ulama itu, akan ditimbang dengandarah para syuhada
Dalam Islam, membaca dan menulis, duaaktivitas yang sangat penting. Sehingga wahyu pertama adalah perintahuntuk membaca: Iqra (Bacalah!). Tentu saja, tatkala Allah memerintahkanuntuk membaca, secara tersirat juga ada perintah untuk menciptakanbahan bacaan, alias menulis. Dan aktivitas menulis sudah menjaditradisi para pemeluk Islam sejak zaman nabi Muhammad Saw. hingga detikini.
Maka tidak aneh, jika kita menjumpai buku para ulamaterdahulu belasan, bahkan ada yang puluhan jilid. Misalnya, ImamAth-Thabari menulis kitab Jamiul Bayanan Tawilili Aayatil Quran duabelas jilid. Karya beliau bukan hanya kitab ini saja, terlalu panjangkalau kita sebutkan di sini.. Yang jelas, Imam Ad-Dawudi dalam kitabThabaqat al-Mufassirin menjelaskan bahwa Ibnu Jarir (Imam Ath-Thabari)selama empat puluh tahun menulis dan setiap hari menulis empat puluhhalaman.
Mari kita hitung, 40 tahun x 365 hari x 40 halaman,berarti 584.000 halaman.. Kalau satu buku kita rata-ratakan 1000halaman, maka ada 585 jilid buku. Subhanalloh! Sungguh menakjubkan!Betapa tidak, beliau menulis pada zaman pena terbuat dari bulu ayam,bukan zaman digital yang komputer dan lap top serba canggih. Beliauyang hidup tahun 224-310 Hijriyah bisa menulis sebanyak 40 halamantanpa komputer, lantas seberapa banyak yang kita tulis setiap haridengan bantuan komputer?
Bahkan ulama dahulu, mereka menulisbukan di kertas, melainkan di pelepah kurma, kulit binatang, batu, dantulang. Bahkan ada yang menulis di sepatu kulitnya ingat sepatu Aladin.Sa'ad bin Jubair (wafat 714 M) bercerita, "Dalam kuliah-kuliah IbnuAbbas, aku biasa mencatat pada lembaran; bila telah penuh, akumenuliskannya di kulit sepatuku, dan kemudian di tanganku"; dan "ayahkusering berpesan kepadaku, "Hapalkanlah, tapi paling penting adalahcatatlah! Bila sampai di rumah maka tuliskanlah! Jika kau memerlukanatau tidak ingat lagi, maka bukumu akan membantumu!" Itulah tradisiulama Islam zaman dulu. Hingga, hasil catatan mereka, menjadi rujukanumat Islam dari masa ke masa.
Atau kita ambil contoh ulama abad20-an yang lebih dekat dengan zaman kita, misal Syaikh Ali Thanthawi.Seberapa banyak bacaan dan tulisannya? Sebaiknya kita dengarkanlangsung beliau bertutur:
Saya membaca lebih sepuluh jam setiaphari. Setiap jam, saya membaca sepuluh halaman untuk buku berat dansepuluh halaman buku ringan. Berarti, setiap hari saya membaca sebanyakdua ratus halaman. Itu saya lakukan dalam rentang waktu tujuh puluhtahun. Oleh sebab itu, saya pun menulis lebih banyak dibanding denganorang-orang yang saya kenal, kecuali Amir Syakib Arsalan dan AbbasMahmud Al-Aqqad. Artikel saya yang termuat di media massa lebih daritiga ribu halaman, sedangkan yang hilang entah di mana, lebih dari itu..
Sekarangsilahkan Anda hitung sendiri, berapa halaman hasil baca SyaikhThanthawi selama tujuh puluh tahun? Setelah itu, hitung berapa halamanhasil baca dan tulisan Anda. Lalu, bandingkan dengan hasil baca dantulisan Anda dengan bacaan dan tulisan Syaikh Ali Thantawi. Seberapabesarkah jaraknya?
Dari jawaban Anda, mungkin Anda menemukanjawaban mengapa selama ini Anda tidak menulis, sebab Anda sedikitsekali membaca, baik itu membaca buku maupun membaca realitaslingkungan, dan alam semesta. Tapi mengapa tidak semua bisamelakukannya? Sebab, tidak semua orang memiliki kemauan dan istiqamahdengan kemauan untuk menulis. Jadi, alasannya bukan mampu atau tidaknyamenulis, karena saya yakin Anda mampu menulis, hanya saja tidak adakemauan. Mampu tapi tidak mau, inilah kita sebut dengan malas. Sekalilagi, sudah saatnya, kita bukan sekedar jago berbicara, melainkan jugaahli menulis, agar kita abadi. Wallhu 'alam.
Abu Mufida Al-Kautsar
Catatan Harian Lainnya
|
|
|
| |
|
|
|
| |
|
|
|
| |
|
|
|
| |
|
|
|
| |
|
|
|
|